Friday, January 5, 2007

pilihan

kata momo, hidup adalah "about choosing". bagi yg mampu berpikir jernih, mungkin akan mengamini. bagi yg sudah sesak dengan hidup itu sendiri pastilah akan menolak. katanya hidup ini suratan takdir.
back to ourselves. aku memilih untuk menjadi aktivis, karyawan di lembaga ini dan menjadi seorang istri.( belum untuk seorang ibu.....)
kalau direview, terbentang panjangnya pilihan untukku. ketika sudah memilih, seringkali pilihan itu benar. namun adakalanya karena situasi tertentu maka pilihan itu perlu dikoreksi kembali. tidak perlu ragu atau malu. dikoreksi kembali bukan berarti mengganti total 100%.
rasanya kok semuanya ttg memilih. mau bobok apa melekan? mau makan atau puasa? mau mandi atau sibin ? lha kalau sakit ? tentunya hanya orang yg kurang waras yg memilih sakit. tapi sakit (tidak semua) kan ada penyebabnya. mungkin terlalu sering makan jeroan sapi. padahal punya pilihan bisa makan tempe atau tahu. atau menikah. itu juga pilihan.
menjadi pemulung. pastilah si pemulung akan menolak jika dihakimi memilih karir sebagai pemulung. siapa sih yg berbesar hati menerima profesi itu? tapi kalau diruntut ke belakang, mungkin awal mula profesi itu karena pilihan juga. atau menjadi penemis, pencuri, pelacur, anak jalanan, gelandangan, peragawati, pramugari.
karena sepanjang kupahami seorang bayi lahir tidak dengan label untuk menjadi ....di kelak kemudian hari. titik2 itu yg mengisi kita sendiri. kalau masalah dibabtis, seumpama dia khatolik, ketika babtis bayi memang tidak bisa menolak. gimana menolak wong bisanya cuma oek oek oek...tapi seiring berjalannya waktu maka bisa saja toh dia berubah. tiba2 ingin menjadi budhist. itu kan hak asasi. asalkan mau "perang" dengan keluargnya. biasanya begitu....ingin jadi presiden juga sebuah pilihan kok....meskipun sby dulu dicalonkan parati demokrat tapi kalau dia tidak mau kan ya pilihannya dia...tapi dia memilih untuk mau dan akhirnya terpilih.

kata momo, hidup ini adalah ttg memilih.
kata sulis, hidupnya juga penuh dengan berbagai pilihan.
menjadi aktivis, kemudian menjadi manajer, kemudian menjadi kepala biro. dari single kemudian menikah. mengapa menikah, mengapa dengan pak ulis, megapa ke surabaya,... tidak ada yg sulis terima dalam kondisi "ready to wear". semuanya berproses....jangan takut melakukan koreksi terhadap pilihan. toh pilihan bukan dengan lampu wasiat aladin. yg cuma diberikan 3 pilihan. (padahal sehari saja kita punya puluhan pilihan ya..).

semoga setiap insan sadar akan makna "hidup ini adalah memilih".

No comments: